Jumat, 19 Agustus 2022

Sistem Reproduksi Manusia

 BAB 9

SISTEM REPRODUKSI MANUSIA

·       Pembelahan Mitosis

Pembelahan Mitosis adalah peristiwa pembelahan sel yang menghasilkan dua sel anak dengan jumlah kromosom yang sama seperti sel induknya. Pembelahan mitosis secara sederhana merupn sel tubuh yang menghasilkan dua sel anakan yang memiliki jumlah kromosom yang sama dengan sel induk.

Pembelahan mitosis biasanya terjadi pada sel-sel seperti eukariotik karena sel ini memiliki organel yang dibutuhkan oleh mitosis seperti inti sel, membran sel, dan mitokondria.akan pembelahan secara langsung. Namun, jelasnya adalah pembelahan mitosis ini adalah pembelahan

Proses pembelahan mitosis terdiri dari beberapa tahapan, yaitu:

 

v Profase

Profase menjadi tahap awal dari pembelahan mitosis. Pada tahap ini, sentrosom direplikasi dan kemudian menghasilkan dua sentrosom. Dua sentrosom itu kemudian bergerak ke masing-masing kutub inti sel yang lokasinya berlawanan arah.

Di sisi lain, mikrotubulus atau serat protein panjang juga mulai muncul di antara dua sentrosom yang dihasilkan. Mikrotubulus ini kemudian membentuk seperti benang yang disebut dengan benang spindel. Di sisi lain, benang-benang kromatin juga menebal dan menghasilkan kromosom. Kromosom ini merupakan tempat untuk benang-benang spindel menempel. Pada akhir tahapan profase, membran inti mulai rusak dan menjadi bagian-bagian kecil dan seluruh sel telah berada di tempat yang seharusnya.

v  Interfase

Tahapan interfase ini merupakan proses ketika sel melakukan persiapan dengan menimbun energi untuk proses pembelahan. Proses interfase ini pada umumnya melalui proses yang lebih lama di antara fase yang lainnya.  Pada fase ini, masih ada tiga tahapan yang dilewati, yaitu tahap gap pertama (G1), fase sintesis, dan gap kedua (G2).

Fase G1 merupakan tahapan saat sel mengalami pertumbuhan dan perkembangan dengan ditandai berkembangnya cairan sel, organel sel, serta sintesis dari bahan yang akan digunakan pada fase S. Setelah melewati fase G1, sel kemudian melalui fase S atau sintesis. Pada fase ini, sel melakukan duplikasi DNA sebagai materi genetik yang diturunkan ke sel anak.

v Metafase

Setelah nukleus atau membran inti rusak atau tidak tampak, kemudian kinetokor pada sentromer dihubungkan oleh benang spindel ke sau sentronom. Dua kromatid itu kemudian mulai bergerak ke inti sel dan membentuk sebuah lempeng yang bernama metafase.

v Anafase

Pada tahap anafase ini, kromatid dan sentromer saling memisah dan kemudian membentuk kromosom baru. Kromosom baru itu kemudian ditarik benang spindel menuju kutub yang berlawanan. Jumlah yang berpindah ke kutub itu memiliki jumlah yang sama.

Pada tahap ini, terjadi fase pembelahan sitoplasma, organel, dan membran selular. Fase itu disebut dengan sitokinesis.

v  Telofase

Telofase menjadi tahap paling akhir dari pembelahan mitosis. Pada tahap ini, kromosom telah sampai ke kutubnya dan mulai merenggang, benang-benang spindel yang menghubungkan mulai menghilang, serta membran inti atau nukleus mulai bergabung satu sama lain.


·      Pembelahan meiosis

Pembelahan sel meiosis ini merupakan pembelahan sel yang terjadi tidak langsung atau terjadi sebanyak dua kali dengan menghasilkan empat sel di mana jumlah kromosom masing-masing sel adalah separuh dari jumlah induk.

Pembelahan meiosis ini biasanya terjadi pada seekor hewan atau tumbuhan berbiji. Pembelahan ini terjadi saat pembentukan sel sperma dan ovum. Sementara pada tumbuhan berbiji, pembelahan terjadi saat sporangium diproduksi. Karena terjadi dua kali, proses terjadinya pembelahan meiosis ini dibagi menjadi meiosis I dan meiosis II.

 

ORGAN REPRODUKSI MANUSIA

Pada dasarnya organ reproduksi manusia terbagi menjadi dua, yatu organ reproduksi bagian dalam dan organ reproduksi bagian luar.

Berikut ini penjelasan mengenai organ reproduksi manusia tersebut.

A.    Organ reproduksi pria

·        Penis : bagian luar organ reproduksi laki-laki yang berfungsi sebagai saluran kencing (urin) dan saluran sperma.

·        Skrotum : bagian seperti kantung yang di dalamnya terdapat testis, berfungsi menjaga suhu testis agar sesuai untuk produksi sperma.

·        Testis : bagian yang bentuknya bulat telur yang tersimpan dalam skrotum, berfungsi untuk memproduksi sperma dan hormon testosteron.

·        Epididimis : saluran yang keluar dari testis yang berbentuk seperti tanda koma dengan sekitar 4 cm, berfungsi sebagai tempat penyimpanan sperma sementara.

·        Vas Deferens : saluran panjang yang mengarah ke atas dan merupakan lanjutan dari epididimis, berfungsi menghubungkan epididimis dan uretra.

·        Uretra : saluran yang terdapat dalam penis, merupakan akhir dari saluran reproduksi, berfungsi sebagai saluran keluarnya sperma dan urine.

·        Kelenjar Vesikula Seminalis : bagian yang berbentuk seperti kantung kecil berukuran ± 5 cm yang terletak di belakang kantung kemih, berfungsi menghasilkan zat-zat yang diperlukan untuk perkembangan sperma.

·        Kelenjar Prostat : bagian yang berbentuk seperti kue donat yang terletak di bawah kantung kemih, berfungsi menghasilkan cairan bersifat asam.

·        Kelenjar Cowper : bagian yang berbentuk seperti kacang yang terletak di bawah kelenjar prostat, berfungsi menghasilkan lendir dan cairan bersifat basa.

Organ Reproduksi Pria

B.      Organ reproduksi wanita

Beberapa organ reproduksi wanita adalah sebagai berikut :

·       Ovarium : struktur berbentuk seperti telur, berjumlah dua buah, terletak di samping kanan dan kiri rahim (uterus) dan berfungsi menghasilkan sel telur (ovum).

·       Saluran telur (Tuba Fallopi atau Oviduk) : saluran dengan sekitar 10 cm yang menghubungkan ovarium dengan rahim (uterus).

·       Infundibulum : sruktur berjumbai dan merupakan pangkal dari tuba fallopi.

·       Rahim (uterus) : struktur seperti buah pir yang berfungsi sebagai tempat berkembangnya janin selama kehamilan.

·       Endometrium : lapisan yang membatasi rongga rahim dan meluruh saat menstruasi.

·       Vagina : saluran yang menghubungkan lingkungan luar dengan rahim, saluran mengalirnya darah menstruasi, dan saluran keluarnya bayi.

·      Servik : struktur rahim bagian bawah yang menyempit dan membuka ke arah vagina.

 

 

PROSES PEMBENTUKAN SPERMATOGENESIS DAN SEL TELUR

Spermatogenesis adalah proses memproduksi sel sperma yang terjadi pada testis pria.

Sedangkan Oogenesis merupakan proses produksi dan perkembangan sel telur atau ovum pada ovarium wanita. Keduanya merupakan bagian penting dari sistem reproduksi manusia. 

Pengertian spermatogenesis adalah proses pembentukan dan pematangan spermatozoa. Spermatozoa merupakan gamet jantan dewasa yang ada dalam organisme secara reproduksi seksual.

Fungsi spermatogenesis adalah untuk menghasilkan sel sperma yang efektif mampu membuahi sel telur (ovum) sehingga terbentuk zigot. Zigot tersebut nantinya akan berkembang menjadi janin.

Spermatogenesis juga berfungsi untuk menjaga agar individu memiliki keturunan yang sehat dengan cara mempertahankan jumlah kromosom dalam tubuh.

Proses spermatogenesis secara singkat 

Pematangan sel sperma terjadi di tubulus seminiferus yang kemudian disimpan di epididimis. Menurut asal katanya “tubulus” berarti saluran, sedangkan “seminiferus” artinya adalah semen.

Pada tubulus seminiferus terdapat dinding yang terlapisi oleh sel germinal yang disebut  spermatogonium.

Materi spermatogenesis meliputi proses pematangan sel epitel germinal melalui pembelahan dan diferensiasi sel, yang bertujuan untuk membentuk sperma fungsional. Pembelahan sel tersebut terjadi secara mitosis dan meiosis.

Tahapan proses spermatogenesis secara berurutan adalah dimulai di dalam testis, tepatnya  pada sistem tabung kecil yang bernama tubulus seminiferus. Sel awal sperma yang berbentuk lingkaran berkembang hingga berbentuk seperti kecebong.

Setelah itu, sperma akan pindah ke epididimis untuk disimpan sementara. Kemudian dari epididimis, sperma bergerak lagi ke vas deferens untuk bercampur dengan air mani.

Faktor Spermatogenesis

Beberapa faktor yang mempengaruhi terjadinya spermatogenesis, antara lain sebagai berikut.

·        Perubahan suhu.

·        Kekurangan gizi

·        Paparan obat kuat

·        Pemakaian alkohol

·        Perubahan kadar hormon testosteron

·        Kerusakan DNA pada sperma

Urutan Proses Spermatogenesis

 

Penjelasan skema tahap spermatogenesis :

·        Pada dinding tubulus seminiferus sudah tersedia calon sperma (spermatogonium) yang berjumlah ribuan. Spermatogonium bersifat diploid (2n). Sel diploid merupakan sel yang memiliki jumlah kromosom berpasangan.

·        Setiap spermatogonium akan membelah secara mitosis membentuk spermatosis primer (2n).

·        Spermatosit primer (2n) akan melakukan pembelahan meiosis pertama membentuk 2 spermatosit sekunder yang bersifat haploid (n). Sel haploid adalah sel yang hanya terdiri dari satu set kromosom.

·        Tiap spermatosit sekunder (n) melakukan pembelahan meiosis kedua, menghasilkan 4 spermatid yang bersifat haploid (n).

·        Keempat spermatid ini berkembang menjadi sperma matang yang bersifat haploid yang semua fungsional , yang berbeda dengan oogenesis yang hanya 1 yang fungsional.

·        Sperma yang matang akan menuju epididimis, selanjutnya ke vas deferens, vesicula seminalis, dan uretra serta berakhir dengan ejakulasi.

Sperma sendiri merupakan sel kelamin laki-laki. Sperma yang sudah matang terdiri dari tiga bagian, yaitu kepala yang berbentuk oval, badan, dan ekor yang panjang.

Kepala sperma berisi materi genetik (gen), sedangkan ekor digunakan untuk bergerak. Panjang sperma dari kepala hingga ekor rata-rata adalah 0,05 milimeter.

Bagian kepala sperma terlindungi suatu badan yang disebut akrosom. Pada bagian ini juga mengandung  enzim hialurodinase dan proteinase.

Enzim tersebut berfungsi saat proses penembusan lapisan sel telur. Pada bagian tengahnya terdapat mitokondria kecil yang berfungsi menyediakan energi untuk menggerakkan ekor sperma.

Hormon yang Berperan dalam Spermatogenesis

Proses pembentukan spermatozoa dipengaruhi oleh kerja beberapa hormon yang dihasilkan kelenjar hipofisis, yaitu LH, FSH, dan hormon testoteron.

1. LH (Luteinizing Hormone)

LH (Luteinizing Hormone) adalah hormon yang merangsang sel Leydig untuk menghasilkan hormon testosteron. Pada masa pubertas, maka testosteron memacu tumbuhnya sifat kelamin sekunder.

2. FSH (Folicle Stimulating Hormone)

FSH (Folicle Stimulating Hormone) merupakan hormon merangsang sel Sertoli untuk menghasilkan ABP (Androgen Binding Protein) yang akan memacu spermatogonium untuk memulai proses spermatogenesis.

Proses pemasakan spermatosit menjadi spermatozoa disebut spermiogenesis. Proses ini terjadi di dalam epididimis dan membutuhkan waktu kurang lebih dua hari.

3. Hormon Testosteron

Hormon testosteron adalah hormon yang dihasilkan oleh testis. Hormon ini berfungsi merangsang perkembangan organ seks primer  pada saat embrio dan mendorong spermatogenesis.

Hormon testosteron juga mempengaruhi perkembangan alat reproduksi dan ciri kelamin sekunder pada laki-laki dewasa.

PROSES OOGENESIS

Oogenesis adalah proses pembentukan dan perkembangan sel telur atau ovum. Proses oogenesis terjadi di dalam ovarium.

Siklus oogenesis dimulai sejak bayi masih berada di dalam kandungan, ketika organ kelamin sudah terbentuk.

Ovum merupakan gamet pada wanita yang digunakan untuk proses reproduksi seksuat sehingga dihasilkan sebuah individu baru melalui proses pembuahan (fertilisasi) dengan sel sperma.

Ovum berisi satu set DNA haploid (n) dan mengandung 23 kromosom yang diperlukan sebagai kode penentu sifat dan fisik dari keturunannya.

Pada saat bertemu dengan gamet jantan (sperma) yang juga berisi satu set DNA haploid (n), maka akan terbentuk sebuah zigot yang selanjutnya berkemban menjadi embrio dan janin.

Ovum adalah istilah jamak untuk sel telur yang jumlahnya banyak, sedangkan istilah satu sel telur disebut oosit.

Setiap wanita biasanya mempunyai persediaan ovum pada ovariumnya, Ketika persediaan ovum ini habis maka wanita tersebut akan masuk ke fase menopause dengan ditandai berhentinya siklus menstruasi.

B. Tahapan Oogenesis

Oogenesis sebenarnya sudah terjadi sejak bayi masih berusia 5 bulan dalam kandungan. Proses oogenesis berlanjut hingga oosit primer membelah secara meiosis pada saat bayi berusia 6 bulan.

Akan tetapi proses ini tidak dilanjutkan sehingga oosit primer dalam keadaan dorman (istirahat). Di dalam ovarium terdapat sel induk telur yang dinamakan oogonium.  

Oogonium merupakan sel induk dari sel telur yang terdapat pada sel folikel yang ada dalam ovarium.

Sel-sel oogonium bersifat diploid (2n) yang selanjutnya akan mengalami pembelahan secara mitosis menjadi oosit primer yang juga bersifat haploid (2n).

Setelah bayi dilahirkan, di dalam ovariumnya mengandung 1 hingga 2 juta oosit primer. Seiring berjalannya waktu, oosit primer yang dihasilkan mengalami kematian setiap harinya.

Kondisi ini berlangsung hingga manusia menginjak masa pubertas. Akibatnya, oosit primer yang tersisa hanya 200.000 hingga 400.000.

Menginjak masa pubertas, oosit primer melanjutkan fase pembelahan meiosis I. Pada fase ini, oosit primer membelah menjadi dua sel yang berbeda ukuran dan masing-masing bersifat haploid.

Satu sel yang berukuran besar dinamakan oosit sekunder, sedangkan sel yang lain dengan ukuran lebih kecil dinamakan badan kutub primer.

Pada fase berikutnya, oosit sekunder akan melanjutkan pada fase meiosis II. Fase ini dilakukan apabila ada fertilisasi.

Apabila tidak terjadi fertilisasi, oosit sekunder mengalami degenerasi. Akan tetapi, apabila ada fertilisasi, fase meiosis II dilanjutkan.

Indikasinya, oosit sekunder membelah menjadi dua sel, yakni satu berukuran besar dan satu berukuran lebih kecil.

Sel yang berukuran besar di namakan ootid, sementara sel berukuran kecil dinamakan badan kutub sekunder.

Secara bersamaan, badan kutub primer juga membelah menjadi dua. Oleh karenanya, fase meiosis II menghasilkan satu ootid dan tiga badan kutub sekunder.

Kemudian, satu ootid yang dihasilkan tersebut berkembang menjadi sel telur (ovum) yang matang. Sementara itu, badan kutub hancur atau palosit (mengalami kematian). 

Peristiwa pengeluaran sel telur dikenal dengan ovulasi. Setiap ovulasi hanya memiliki satu sel telur yang matang sehingga dapat hidup selama 24 jam.

Apabila sel telur yang matang tersebut tidak dibuahi, maka sel telur akan mati dan luruh bersama dinding rahim pada awal siklus menstruasi.

C. Faktor yang Mempengaruhi Oogenesis

Proses oogenesis seorang wanita akan dipengaruhi hormon-hormon yang ada di dalam tubuh, khususnya hormon reproduksi.

Hormon-hormon reproduksi yang berpengaruh terhadap proses oogenesis adalah sebagai berikut.

·        Hormon FSH (Follicle Stimulating Hormone); berfungsi untuk merangsang terjadinya ovulasi (proses pengeluaran sel telur atau ovum).

·        Hormon LH (Luteinizing Hormone); berfungsi sebagai merangsang ovulasi (proses pengeluaran sel telur).

·        Hormon Estrogen; berfungsi untuk membantu pematangan folikel dan merangsang pertumbuhan alat kelamin sekunder.

·        Hormon Progesteron, berfungsi untuk menebalkan dinding endometrium yang berperan dalam peluruhan ovum (menstruasi).

SIKLUS MENSTRUASI YANG TERJADI PADA DINDING RAHIM

Menstruasi merupakan suatu keadaan keluarnya darah, cairan jaringan, lendir, dan sel-sel epitel yang menyusun dinding rahim. Apabila seorang perempuan mengalami menstruasi, maka akan keluar darah melalui organ vitalnya.

Menstruasi atau haid menjadi penanda seorang wanita memasuki usia pubertas, antara usia 11 sampai dengan 14 tahun.

Menstruasi pada wanita akan terjadi secara berkala setiap bulannya. Siklus menstruasi dapat berbeda-beda antara wanita satu dengan lainnya.

Pada umumnya, satu siklus menstruasi berlangsung selama 28 hari. Ada wanita yang siklus menstruasinya pendek dan pula yang siklus menstruasinya panjang.

Siklus menstruasi yang pendek biasanya berlangsung selama kurang lebih 18 hari. Sedangkan siklus menstruasi panjang bisa mencapai 40 hari lamanya.

Meskipun terjadi secara periodik, akan ada masa dimana seorang wanita akan berhenti menstruasi karena sudah tidak lagi memproduksi sel telur.

Proses menstruasi terjadi dikarenakan sel telur pada organ wanita tidak dibuahi. Hal ini menyebabkan endometrium atau lapisan dinding rahim yang menebal menjadi luruh.

Apabila waktu luruh lapisan dinding rahim telah tiba, maka akan mengeluarkan darah melalui saluran reproduksi wanita.

A. Fase-fase Menstruasi

Menstruasi pada wanita terbagi ke dalam empat fase, yaitu fase mentruasi (hari 1 sampai 5), fase folikular (hari 1 sampai 13), fase ovulasi (hari 14), dan fase luteal (hari 15 sampai 28).

1. Fase Menstruasi

Fase menstruasi terjadi jika sel telur (ovum) tidak dibuahi oleh sperma, sehingga korpus luteum akan menghentikan produksi hormon estrogen dan hormon progesteron.

Menurunnya kadar estrogen dan progesteron ini menyebabkan lepasnya ovum dari dinding rahim (endometrium) yang disertai meluruhnya endometrium tersebut, sehingga terjadi pendarahan.

Efek psikis dari menurunnya hormon estrogen adalah wanita menjadi sensitif dan mudah marah selama menstruasi berlangsung.

Fase menstruasi ini berlangsung selama kurang lebih lima hari. Banyaknya darah yang keluar selama masa menstruasi berkisar antara 30 – 40 ml tiap hari.

Darah menstruasi akan keluar lebih banyak pada hari pertama hingga ketiga. Pada rentang waktu tersebut, biasanya wanita akan mengalami nyeri perut.

Nyeri di bagian perut ini disebabkan karena konstraksi pada rahim akibat peningkatan hormon prostaglandin selama berlangsungnya menstruasi.

Kontraksi yang kuat pada rahim dapat menyebabkan suplai oksigen ke organ tersebut tidak berjalan lancar.

Kurangnya asupan oksigen ini yang menyebabkan kram atau nyeri perut selama menstruasi. Sebenarnya kontraksi ini juga berperan dalam mendorong meluruhnya endometrium keluar menjadi darah menstruasi.

Pada saat terjadi penurunan hormon estrogen dan progesteron, maka di waktu yang sama, hormon perangsang folikel (FSH) mulai meningkat dan memancing perkembangan folikel (kantong indung telur) baru di dalam ovarium.

Akan tetapi, dari beberapa folikel yang berkembang tersebut, hanya ada satu folikel yang terus berkembang akan memproduksi estrogen.

2. Fase Folikular

Fase folikular merupakan langkah untuk pemulihan dari fase menstruasi yang pertama. Fase folikular ditandai dengan pelepasan hormon Follicle Stimulating Hormone (FSH) oleh kelenjar hipofisis yang terletak di otak. Hormon FSH akan merangsang sel-sel telur dalam ovarium untuk tumbuh dan matang.

Sel telur akan matang di dalam kantung yang disebut folikel. Sel telur akan mencapai kematangan pada hari ketiga belas.

Pada saat sel telur matang, folikel mengeluarkan hormon estrogen yang merangsang rahim untuk membentuk kembali lapisan pembuluh darah dan jaringan lunak baru yang disebut endometrium.

Fase folikuler dimulai dari hari pertama sampai dengan hari ketiga belas selama siklus menstruasi.

Pada fase ini, hormon estrogen dan progesteron yang pada fase sebelumnya menurun, perlahan mulai meningkat kembali.

Peningkatan kedua hormon tersebut akan memberikan dorongan energi, meningkatkan percaya diri dan suasana hati.

3. Fase Ovulasi

Fase ovulasi terjadi pada hari ke-14. Pada fase ini, otak akan memerintah hormon Luteinizing Hormone (LH) untuk melepaskan sel telur yang sudah matang dari folikel ke saluran tuba (tuba fallopi) dan akan bertahan selama 24 jam.

Pada fase ovulasi, hormon estrogen dan progesteron berada di puncaknya, sehingga meningkatkan efek psikis dari fase sebelumnya (folikuler). Hal tersebut berdampak pada meningkatnya percaya diri serta libido.

4. Fase Luteal

Fase terakhir dari siklus menstruasi adalah fase luetal. Fase ini terjadi pada hari kelima belas sampai dengan siklus menstruasi terakhir.

Pada fase ini, bekas folikel yang telah ditinggalkan sel telur pada masa ovukasi akan membentuk korpus luteum yang menghasilkan hormon progesteron.

Pada fase luteal, hormon estrogen akan mengalami penurunan dan sebagai gantinya tubuh mulai memproduksi progesteron.

Hormon progesteron merupakan hormon anti kecemasan alami, sehingga wanita akan berada pada suasana perasaan yang lebih stabil dibanding fase ovulasi.

Rendahnya jumlah hormon estrogen dan hormon progesteron akan menyebabkan jaringan penyusun dinding rahim (endometrium) rusak dan pecah, sehingga menstruasi akan terjadi kembali.

B. Faktor yang Memengaruhi Menstruasi

Siklus menstruasi dipengaruhi oleh adanya peran beberapa hormon tubuh berikut ini.

·        Estrogen;  hormon yang berperan dalam pada pelepasan sel telur (ovulasi) dalam siklus reproduksi wanita dan membantu penebalan dinding rahim.

·        Progesteron; hormon yang menjaga siklus reproduksi dan menjaga kehamilan, serta . berperan dalam penebalan dinding rahim.

·        Hormon pelepas gonadotropin (Gonadotrophin-releasing hormone-GnRh); horman yang diproduksi oleh otak dan membantu memberikan rangsangan pada tubuh untuk menghasilkan hormon perangsang folikel dan hormon pelutein.

·        Hormon Pelutein (Luteinizing hormone-LH)hormon yang merangsang pembentukan sel telur dan proses ovulasi.

·        Hormon perangsang folikel (Follicle stimulating hormone-FSH); hormon yang berfungsi membantu sel telur di dalam ovarium matang dan siap untuk dilepaskan dan diproduki pada bagian bawah otak.

 Fertilisasi dan Kehamilan

 FERTILISASI

Apabila ada sel sperma yang masuk ke dalam saluran reproduksi perempuan, sel sperma tersebut akan bergerak menuju sel telur.

Apabila telah bertemu dengan sel telur, bagian kepala sperma akan masuk ke dalam sel telur dan meninggalkan bagian ekornya di luar sel telur.

Proses inilah yang mengawali terjadinya fertilisasi. Fertilisasi merupakan proses peleburan inti sel sperma dengan inti sel telur, sehingga membentuk zigot. Proses fertilisasi ini terjadi di dalam tuba fallopi.

Sel sperma menggunakan flagela yang bergerak memutar sebagai baling-baling untuk menggerakan tubuh dalam cairan yang ada pada tuba fallopi menuju ke sel telur. Gerakan flagela ini dianalogikan dengan baling-baling untuk mendorong perahu.

Ada beberapa mekanisme sel sperma dapat menemui sel telur. Sel sperma dapat menemukan lokasi sel telur karena sel telur menghasilkan senyawa kimia berupa hormon progesteron.

Selain itu, juga karena adanya sensor panas (suhu tuba fallopi atau tempat sel telur berada, lebih tinggi dibandingkan suhu tempat penyimpanan sperma).

Zigot yang terbentuk setelah terjadinya fertilisasi akan melakukan pembelahan, selanjutnya berkembang menjadi embrio yang akan menuju ke rahim kemudian tertanam (implantasi) ke dalam endometrium. Pada kondisi ini seseorang mengalami kehamilan.

Berikut ini skema proses fertilisasi dan implantasi,

PROSES MELAHIRKAN

Proses melahirkan dipicu oleh tingginya level hormon estrogen. Tingginya kadar estrogen dalam darah memicu kepekaan uterus terhadap hormon oksitosin.

Oksitosin dihasilkan oleh fetus (janin), oksitosin juga merangsang plasenta untuk menghasilkan hormon prostaglandin.

Hormon oksitosin dan prostaglandin akan meningkatkan frekuensi kontraksi otot uterus, kekuatan kontraksi, dan durasi kontraksi hingga bayi lahir.

Pada mulanya kontraksi terjadi selama 30 detik atau kurang dalam rentang waktu 25 hingga 30 menit. Pada saat puncaknya, kontraksi dapat terjadi selama 60 hingga 90 detik dan terjadi setiap 2 hingga 3 menit.

Kontraksi  otot uterus dimulai dari otot bagian atas lalu menuju ke bawah, memberikan gaya dorong pada bayi untuk keluar melalui serviks. Gaya dorong ini semakin kuat saat kepala bayi mendorong dinding serviks.

Hal ini terjadi karena, saat dinding serviks terdorong dan melebar, maka akan merangsang dihasilkannya hormon oksitosin.

Meningkatnya hormon ini akan membuat kontraksi otot uterus semakin kuat, sehingga gaya dorong yang dihasilkan semakin besar.

Selain gaya dorong terdapat pula gaya gesek antara bayi dengan cairan plasenta dan gaya gesek antara bayi dengan saluran serviks.

Panah berwarna biru menunjukkan arah gaya dorong, sementara panah warna kuning menunjukkan arah gaya gesek.

Arah gaya gesek selalu berlawanan dengan arah gerak benda. Pada proses kelahiran, arah gerak bayi yang mendesak keluar berlawanan dengan arah gaya gesek yang arahnya menuju ke dalam. Ketika bayi keluar dari serviks gaya gesek di saluran serviks akan semakin membesar karena kecilnya diameter serviks.

Gaya gesek ini menahan gerakan bayi untuk keluar. Akan tetapi, hormon oksitosin yang dihasilkan selama dinding serviks terdorong akan memperkecil gaya gesek tersebut.

Selain adanya oksitosin, gaya gesek juga diperkecil dengan adanya cairan ketuban yang berperan sebagai pelumas atau pelicin ketika bayi keluar.

MASA KEHAMILAN

Masa kehamilan dapat diartikan sebagain kondisi sejak terjadinya fertilisasi dan embrio terimplantasi dalam endometrium hingga terjadinya kelahiran.

Pada manusia, masa kehamilan rata-rata berlangsung selama 38 minggu (266 hari) mulai dari fertilisasi atau 40 minggu dari permulaan siklus menstruasi terakhir.

Kehamilan manusia dibagi menjadi 3 (tiga) periode (trimester), dimana masing-masing trimester lamanya tiga bulan.

Trimester Pertama

Trimester pertama berlangsung dari minggu pertama sampai minggu ke-13 masa kehamilan. Pada trimeter pertama, perubahan pada ibu belum terlihat jelas.

Akan tetapi, terjadi perubahan besar dalam tubuhnya, misalnya peningkatan kadar hormon estrogen dan progesteron.

Rahim mulai mendukung untuk pertumbuhan janin dan plasenta. Tubuh juga akan meningkatkan supai darah untum membawa oksgen dan nutrisi ke janin yang sedang berkembang.

Selama trimester pertama, ibu harus menjaga kondisi tubuhnya, karena janin mudah mengalami keguguran.

Kondisi janin pada trimester pertama memiliki ciri-ciri sebagai berikut.

1.     Ukuran embrio kurang lebih 7 mm

2.     Embrio telah memiliki bakal tulang belakang

3.     Otak dan sumsum tulang mulai terbentuk

4.     Embrio sudah dapat disebut janin, yang terlekat pada tali pusar dengan terhubung plasenta dan terlindungi oleh kantong ketuban (amnion).

5.     Janin berukuran sekitar 5,5 cm.

6.     Otot, tulang belakang, tulang rusuk, lengan, dan jari mulai terbentuk.

7.     Janin sudah dapat menggerakkan lengan dan kaki, serta mampu memutar kepala.

8.     Pada akhir trimester pertama, janin terlihat seperti miniatur manusia, jenis kelamin sudah tampak, dan detak jantung dapat dideteksi.

Trimester Kedua

Trimester kedua berlangsung dari minggu ke-13 sampai dengan minggu ke-27. Trimestrer kedua merupakan periode yang dirasakan paling nyaman oleh ibu hamil, karena kegelisahan gejala kehamilan awal sudah hilang.

Perut ibu akam mulai terlihat membesar seiring pertumbuhan rahim yang lebih cepat dari sebelumnya.

Pada trimester kedua ini, ibu dapat merasakan janin mulai bergerak, bahkan janin dapat mendengar dan mengenali suara ibunya. Jenis kelamin janin juga sudah dapat dideteksi secara lebih jelas.

Kondisi janin pada trimester kedua memiliki ciri-ciri sebagai berikut.

1.     Janin berukuran 10 cm, berat badan 0,5 kg, dan janin sudah terlihat seperti bayi.

2.     Jari tangan dan jari kaki sudah terbentuk, bagian ujung jari sudah tumbuh kuku.

3.     Janin telah memiliki alis dan bulu mata.

4.     Permukaan kulit ditumbuhi oleh rambut.

5.     Janin mulai bergerak aktif.

6.     Pada trimester kedua, mata janin sudah membuka.

Trimester Ketiga

Trimester ketiga berlangsung mulai dari minggu ke-28 sampai dengan masa kelahiran bayi. Pada periode ini, janin sudah bisa membuka dan menutupo mata, mendendang, meregangkan badan, dan bahkan merespon cahaya.

Ketia memasuki bulan kedelapan, pertumbuhan otak janin akan berlangung lebih cepat. Sedangkan bulan kesembilan, paru-paru sudah siap untuk berespirasi sendiri.

Kondisi janin pada trimester ketiga memiliki ciri-ciri sebagai berikut.

1.     Sistem sirkulasi dan respirasi janin mengalami perubahan yang memungkinkan untuk bernapas dengan dunia luar.

2.     Janin mengembangkan kemampuan untuk mengatur suhu tubuh sendiri.

3.     Tulang mulai mengeras dan otot menebal.

Selama perkembangan embrio di dalam rahim, terbentuk membran embrio yang berfungsi untuk melindungi dan memberi makan embrio.

Sakus Vitenalus

Sakus vitenalus (kantung kuning telur) terletak di antara amnion dan plasenta, merupakan tempat keluarnya sel-sel darah merah dan pembuluh darah yang pertama.

Amnion

Amnion merupakan selaput pelindung embrio. Dinding amnion menghasilkan getah berupa air ketuban yang berfungsi sebagai berikut.

1.     Melindungi janin dari tekanan dan benturan.

2.     Memberi ruang gerak bagi janin.

3.     Sebagai cadangan nutrisi bagi janin.

Korion

Korion adalah selaput yang terdapat di luar amnion. Korion dan alantois akan tumbuh keluar membentuk jonjot dan berhubungan dengan dinding rahim. Jonjot-jonjot korion menempel pada dinding rahim.

Di dalam jonjot tersebut terdapat pembuluh-pembuluh darah yang berhubungan dengan peredaran darah ibu melalui perantara plasenta.

Alantois

Alantois terletak di dalam tali pusar, berfungsi menghubungkan sirkulasi embrio dengan plasenta.

Plasenta dengan embrio dihubungkan oleh tali pusar. Di dalam tali pusar terdapat dua buah pembuluh nadi dan sebuah pembuluh balik yang berhubungan dengan pembuluh-pembuluh darah dalam plasenta.

Zat makanan dan oksigen dari pembuluh darah ibu dialirkan melalui plasenta ke tali pusar, selanjutnya ke pembuluh darah embrio.

Sedangkan zat sisa dan karbondioksida dari pembuluh darah embrio dikeluarkan melalui tali pusar menuju plasenta dan akhirnya dialirkan ke pembuluh darah ibu.

 

 

 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Daftar Isi