BAB 9

SISTEM REPRODUKSI MANUSIA
·
Pembelahan Mitosis
Pembelahan Mitosis adalah peristiwa pembelahan sel yang menghasilkan dua sel anak dengan jumlah kromosom yang sama seperti sel induknya. Pembelahan mitosis secara sederhana merupn sel tubuh yang menghasilkan dua sel anakan yang memiliki jumlah kromosom yang sama dengan sel induk.
Pembelahan mitosis biasanya terjadi pada sel-sel seperti eukariotik karena sel ini memiliki organel yang dibutuhkan oleh mitosis seperti inti sel, membran sel, dan mitokondria.akan pembelahan secara langsung. Namun, jelasnya adalah pembelahan mitosis ini adalah pembelahan
Proses pembelahan mitosis terdiri dari beberapa tahapan, yaitu:
v
Profase
Profase menjadi tahap awal dari pembelahan mitosis. Pada tahap ini, sentrosom direplikasi dan kemudian menghasilkan dua sentrosom. Dua sentrosom itu kemudian bergerak ke masing-masing kutub inti sel yang lokasinya berlawanan arah.
Di sisi lain, mikrotubulus atau serat protein panjang juga mulai muncul di antara dua sentrosom yang dihasilkan. Mikrotubulus ini kemudian membentuk seperti benang yang disebut dengan benang spindel. Di sisi lain, benang-benang kromatin juga menebal dan menghasilkan kromosom. Kromosom ini merupakan tempat untuk benang-benang spindel menempel. Pada akhir tahapan profase, membran inti mulai rusak dan menjadi bagian-bagian kecil dan seluruh sel telah berada di tempat yang seharusnya.
v
Interfase
Tahapan
interfase ini merupakan proses ketika sel melakukan persiapan dengan menimbun
energi untuk proses pembelahan. Proses interfase ini pada umumnya melalui
proses yang lebih lama di antara fase yang lainnya. Pada fase ini,
masih ada tiga tahapan yang dilewati, yaitu tahap gap pertama (G1), fase
sintesis, dan gap kedua (G2).
Fase G1 merupakan tahapan saat sel mengalami pertumbuhan dan perkembangan dengan ditandai berkembangnya cairan sel, organel sel, serta sintesis dari bahan yang akan digunakan pada fase S. Setelah melewati fase G1, sel kemudian melalui fase S atau sintesis. Pada fase ini, sel melakukan duplikasi DNA sebagai materi genetik yang diturunkan ke sel anak.
v
Metafase
Setelah
nukleus atau membran inti rusak atau tidak tampak,
kemudian kinetokor pada sentromer dihubungkan oleh benang spindel ke
sau sentronom. Dua kromatid itu kemudian mulai bergerak ke inti sel dan
membentuk sebuah lempeng yang bernama metafase.
v
Anafase
Pada tahap anafase ini, kromatid dan sentromer saling memisah dan
kemudian membentuk kromosom baru. Kromosom baru itu kemudian ditarik benang
spindel menuju kutub yang berlawanan. Jumlah yang berpindah ke kutub itu
memiliki jumlah yang sama.
Pada tahap ini, terjadi fase pembelahan sitoplasma,
organel, dan membran selular. Fase itu disebut dengan sitokinesis.
v Telofase
Telofase
menjadi tahap paling akhir dari pembelahan mitosis. Pada tahap ini,
kromosom telah sampai ke kutubnya dan mulai merenggang, benang-benang spindel
yang menghubungkan mulai menghilang, serta membran inti atau nukleus mulai
bergabung satu sama lain.
·
Pembelahan meiosis
Pembelahan sel meiosis ini merupakan pembelahan sel yang
terjadi tidak langsung atau terjadi sebanyak dua kali dengan menghasilkan empat
sel di mana jumlah kromosom masing-masing sel adalah separuh dari jumlah induk.
Pembelahan
meiosis ini biasanya terjadi pada seekor hewan atau tumbuhan berbiji.
Pembelahan ini terjadi saat pembentukan sel sperma dan ovum. Sementara pada
tumbuhan berbiji, pembelahan terjadi saat sporangium diproduksi. Karena
terjadi dua kali, proses terjadinya pembelahan meiosis ini dibagi menjadi
meiosis I dan meiosis II.
ORGAN
REPRODUKSI MANUSIA
Pada dasarnya organ reproduksi manusia terbagi
menjadi dua, yatu organ reproduksi bagian dalam dan organ reproduksi bagian
luar.
Berikut
ini penjelasan mengenai organ
reproduksi manusia tersebut.
A. Organ reproduksi pria
·
Penis : bagian luar
organ reproduksi laki-laki yang berfungsi sebagai saluran kencing (urin) dan
saluran sperma.
·
Skrotum : bagian seperti
kantung yang di dalamnya terdapat testis, berfungsi menjaga suhu testis agar
sesuai untuk produksi sperma.
·
Testis : bagian yang
bentuknya bulat telur yang tersimpan dalam skrotum, berfungsi untuk memproduksi
sperma dan hormon testosteron.
·
Epididimis : saluran yang
keluar dari testis yang berbentuk seperti tanda koma dengan sekitar 4 cm,
berfungsi sebagai tempat penyimpanan sperma sementara.
·
Vas Deferens : saluran panjang
yang mengarah ke atas dan merupakan lanjutan dari epididimis, berfungsi
menghubungkan epididimis
dan uretra.
·
Uretra : saluran yang terdapat dalam penis, merupakan akhir dari
saluran reproduksi, berfungsi sebagai saluran keluarnya sperma dan urine.
·
Kelenjar Vesikula Seminalis : bagian yang berbentuk seperti kantung
kecil berukuran ± 5 cm yang terletak di belakang kantung kemih, berfungsi
menghasilkan zat-zat yang diperlukan untuk perkembangan sperma.
·
Kelenjar Prostat : bagian yang berbentuk seperti kue donat
yang terletak di bawah kantung kemih, berfungsi menghasilkan cairan bersifat
asam.
· Kelenjar Cowper : bagian yang berbentuk seperti kacang yang terletak di bawah kelenjar prostat, berfungsi menghasilkan lendir dan cairan bersifat basa.

Organ Reproduksi Pria
B.
Organ reproduksi wanita
Beberapa organ reproduksi wanita adalah sebagai
berikut :
·
Ovarium : struktur berbentuk seperti telur,
berjumlah dua buah, terletak di samping kanan dan kiri rahim (uterus) dan
berfungsi menghasilkan sel telur (ovum).
·
Saluran telur (Tuba Fallopi atau Oviduk) :
saluran dengan sekitar 10 cm yang menghubungkan ovarium dengan rahim (uterus).
·
Infundibulum : sruktur berjumbai dan merupakan
pangkal dari tuba fallopi.
·
Rahim (uterus) : struktur seperti buah pir yang
berfungsi sebagai tempat berkembangnya janin selama kehamilan.
·
Endometrium : lapisan yang membatasi rongga
rahim dan meluruh saat menstruasi.
·
Vagina : saluran yang menghubungkan lingkungan
luar dengan rahim, saluran mengalirnya darah menstruasi, dan saluran keluarnya
bayi.
· Servik : struktur rahim bagian bawah yang menyempit dan membuka ke arah vagina.
PROSES PEMBENTUKAN SPERMATOGENESIS DAN SEL TELUR
Spermatogenesis adalah
proses memproduksi sel sperma yang terjadi pada testis pria.
Sedangkan Oogenesis merupakan
proses produksi dan perkembangan sel telur atau ovum pada ovarium wanita.
Keduanya merupakan bagian penting dari sistem reproduksi manusia.
Pengertian spermatogenesis adalah proses pembentukan dan pematangan spermatozoa.
Spermatozoa merupakan gamet jantan dewasa yang ada dalam organisme secara
reproduksi seksual.
Fungsi
spermatogenesis adalah untuk menghasilkan sel sperma yang
efektif mampu membuahi sel telur (ovum) sehingga terbentuk zigot. Zigot
tersebut nantinya akan berkembang menjadi janin.
Spermatogenesis juga
berfungsi untuk menjaga agar individu memiliki keturunan yang sehat dengan cara
mempertahankan jumlah kromosom dalam tubuh.
Proses
spermatogenesis secara singkat
Pematangan sel sperma terjadi
di tubulus seminiferus yang
kemudian disimpan di epididimis. Menurut
asal katanya “tubulus” berarti saluran, sedangkan “seminiferus” artinya adalah
semen.
Pada tubulus seminiferus terdapat
dinding yang terlapisi oleh sel germinal yang disebut spermatogonium.
Materi spermatogenesis meliputi
proses pematangan sel epitel germinal melalui pembelahan dan diferensiasi
sel, yang bertujuan untuk membentuk sperma fungsional. Pembelahan sel tersebut
terjadi secara mitosis dan meiosis.
Tahapan
proses spermatogenesis secara berurutan adalah dimulai
di dalam testis, tepatnya pada sistem tabung kecil yang bernama tubulus seminiferus. Sel
awal sperma yang berbentuk lingkaran berkembang hingga berbentuk seperti
kecebong.
Setelah itu, sperma akan pindah
ke epididimis untuk disimpan sementara. Kemudian dari epididimis, sperma bergerak lagi ke vas deferens untuk bercampur dengan air
mani.
Faktor
Spermatogenesis
Beberapa faktor yang mempengaruhi
terjadinya spermatogenesis, antara lain sebagai berikut.
·
Perubahan suhu.
·
Kekurangan gizi
·
Paparan obat kuat
·
Pemakaian alkohol
·
Perubahan kadar hormon
testosteron
·
Kerusakan DNA pada
sperma
Urutan Proses
Spermatogenesis
Penjelasan skema tahap
spermatogenesis :
·
Pada dinding tubulus
seminiferus sudah tersedia calon sperma (spermatogonium) yang
berjumlah ribuan. Spermatogonium bersifat diploid (2n). Sel diploid merupakan
sel yang memiliki jumlah kromosom berpasangan.
·
Setiap spermatogonium
akan membelah secara mitosis membentuk spermatosis primer (2n).
·
Spermatosit primer (2n)
akan melakukan pembelahan meiosis pertama membentuk 2 spermatosit sekunder yang
bersifat haploid (n). Sel haploid adalah sel yang hanya terdiri dari satu set
kromosom.
·
Tiap spermatosit
sekunder (n) melakukan pembelahan meiosis kedua, menghasilkan 4 spermatid yang
bersifat haploid (n).
·
Keempat spermatid ini
berkembang menjadi sperma matang yang bersifat haploid yang semua fungsional ,
yang berbeda dengan oogenesis yang hanya 1 yang fungsional.
·
Sperma yang matang akan
menuju epididimis, selanjutnya ke vas deferens, vesicula seminalis, dan uretra
serta berakhir dengan ejakulasi.
Sperma sendiri merupakan sel kelamin laki-laki.
Sperma yang sudah matang terdiri dari tiga bagian, yaitu kepala yang berbentuk
oval, badan, dan ekor yang panjang.
Kepala sperma berisi
materi genetik (gen), sedangkan ekor digunakan untuk bergerak. Panjang sperma
dari kepala hingga ekor rata-rata adalah 0,05 milimeter.
Bagian kepala
sperma terlindungi suatu badan yang disebut akrosom. Pada bagian
ini juga mengandung enzim hialurodinase dan proteinase.
Enzim tersebut berfungsi saat
proses penembusan lapisan sel telur. Pada bagian tengahnya terdapat mitokondria
kecil yang berfungsi menyediakan energi untuk menggerakkan ekor sperma.
Hormon yang Berperan dalam Spermatogenesis
Proses pembentukan spermatozoa
dipengaruhi oleh kerja beberapa hormon yang dihasilkan kelenjar hipofisis, yaitu LH, FSH, dan
hormon testoteron.
1. LH (Luteinizing Hormone)
LH (Luteinizing Hormone) adalah hormon yang
merangsang sel Leydig untuk menghasilkan hormon testosteron. Pada masa
pubertas, maka testosteron memacu tumbuhnya sifat kelamin sekunder.
2. FSH (Folicle Stimulating Hormone)
FSH (Folicle Stimulating Hormone) merupakan hormon
merangsang sel Sertoli untuk menghasilkan ABP (Androgen Binding Protein) yang
akan memacu spermatogonium untuk memulai proses spermatogenesis.
Proses pemasakan spermatosit
menjadi spermatozoa disebut spermiogenesis. Proses ini terjadi di dalam
epididimis dan membutuhkan waktu kurang lebih dua hari.
3. Hormon Testosteron
Hormon testosteron adalah hormon
yang dihasilkan oleh testis. Hormon ini berfungsi merangsang perkembangan organ
seks primer pada saat embrio dan mendorong spermatogenesis.
Hormon testosteron juga mempengaruhi perkembangan alat reproduksi dan ciri kelamin sekunder pada laki-laki dewasa.
PROSES
OOGENESIS
Oogenesis adalah proses pembentukan dan perkembangan sel
telur atau ovum. Proses oogenesis terjadi di dalam ovarium.
Siklus oogenesis dimulai sejak bayi masih berada di dalam
kandungan, ketika organ kelamin sudah terbentuk.
Ovum merupakan gamet pada wanita yang digunakan untuk
proses reproduksi seksuat sehingga dihasilkan sebuah individu baru melalui
proses pembuahan (fertilisasi) dengan sel sperma.
Ovum berisi satu set DNA
haploid (n) dan mengandung 23 kromosom yang diperlukan sebagai kode penentu
sifat dan fisik dari keturunannya.
Pada saat bertemu dengan gamet jantan (sperma)
yang juga berisi satu set DNA haploid (n), maka akan terbentuk sebuah zigot
yang selanjutnya berkemban menjadi embrio dan janin.
Ovum adalah istilah
jamak untuk sel telur yang jumlahnya banyak, sedangkan istilah satu sel telur
disebut oosit.
Setiap wanita biasanya
mempunyai persediaan ovum pada ovariumnya, Ketika persediaan ovum ini habis
maka wanita tersebut akan masuk ke fase menopause dengan
ditandai berhentinya siklus menstruasi.
B. Tahapan Oogenesis
Oogenesis sebenarnya
sudah terjadi sejak bayi masih berusia 5 bulan dalam kandungan. Proses oogenesis berlanjut
hingga oosit primer membelah
secara meiosis pada saat bayi berusia 6 bulan.
Akan tetapi proses ini tidak
dilanjutkan sehingga oosit primer dalam keadaan dorman (istirahat). Di dalam
ovarium terdapat sel induk telur yang dinamakan oogonium.
Oogonium merupakan sel induk dari
sel telur yang terdapat pada sel folikel yang ada dalam ovarium.
Sel-sel oogonium bersifat diploid
(2n) yang selanjutnya akan mengalami pembelahan secara mitosis menjadi oosit
primer yang juga bersifat haploid (2n).
Setelah bayi dilahirkan, di dalam
ovariumnya mengandung 1 hingga 2 juta oosit primer. Seiring berjalannya
waktu, oosit primer yang dihasilkan mengalami kematian setiap harinya.
Kondisi ini
berlangsung hingga manusia menginjak masa pubertas. Akibatnya,
oosit primer yang tersisa hanya 200.000 hingga 400.000.
Menginjak masa pubertas, oosit
primer melanjutkan fase pembelahan meiosis I. Pada fase ini, oosit primer membelah
menjadi dua sel yang berbeda ukuran dan masing-masing bersifat haploid.
Satu sel yang
berukuran besar dinamakan oosit sekunder, sedangkan sel yang lain
dengan ukuran lebih kecil dinamakan badan kutub primer.
Pada fase berikutnya, oosit
sekunder akan melanjutkan pada fase meiosis II. Fase ini dilakukan apabila
ada fertilisasi.
Apabila tidak terjadi
fertilisasi, oosit
sekunder mengalami degenerasi. Akan tetapi, apabila ada
fertilisasi, fase meiosis II dilanjutkan.
Indikasinya, oosit sekunder
membelah menjadi dua sel, yakni satu berukuran besar dan satu
berukuran lebih kecil.
Sel yang berukuran besar di
namakan ootid, sementara sel berukuran kecil dinamakan badan
kutub sekunder.
Secara bersamaan, badan kutub
primer juga membelah menjadi dua. Oleh karenanya, fase meiosis
II menghasilkan satu ootid dan tiga badan kutub sekunder.
Kemudian, satu ootid yang dihasilkan tersebut berkembang menjadi sel telur (ovum) yang matang. Sementara itu, badan kutub hancur atau palosit (mengalami kematian).
Peristiwa pengeluaran
sel telur dikenal dengan ovulasi. Setiap ovulasi hanya memiliki satu sel telur
yang matang sehingga dapat hidup selama 24 jam.
Apabila sel telur yang
matang tersebut tidak dibuahi, maka sel telur akan mati dan luruh bersama
dinding rahim pada awal siklus menstruasi.
C. Faktor yang
Mempengaruhi Oogenesis
Proses oogenesis seorang
wanita akan dipengaruhi hormon-hormon yang ada di dalam tubuh, khususnya hormon
reproduksi.
Hormon-hormon reproduksi yang berpengaruh terhadap proses
oogenesis adalah sebagai berikut.
·
Hormon
FSH (Follicle Stimulating Hormone); berfungsi untuk merangsang terjadinya ovulasi
(proses pengeluaran sel telur atau ovum).
·
Hormon
LH (Luteinizing Hormone); berfungsi sebagai merangsang ovulasi (proses pengeluaran sel
telur).
·
Hormon
Estrogen; berfungsi untuk membantu
pematangan folikel dan merangsang pertumbuhan alat kelamin sekunder.
· Hormon Progesteron, berfungsi untuk menebalkan dinding endometrium yang berperan dalam peluruhan ovum (menstruasi).
SIKLUS MENSTRUASI YANG TERJADI PADA DINDING RAHIM
Menstruasi merupakan suatu keadaan keluarnya darah, cairan
jaringan, lendir, dan sel-sel epitel yang menyusun dinding rahim. Apabila
seorang perempuan mengalami menstruasi, maka akan keluar darah melalui organ
vitalnya.
Menstruasi atau
haid menjadi penanda seorang wanita memasuki usia pubertas, antara usia 11
sampai dengan 14 tahun.
Menstruasi pada wanita akan
terjadi secara berkala setiap bulannya. Siklus menstruasi dapat berbeda-beda
antara wanita satu dengan lainnya.
Pada umumnya, satu siklus
menstruasi berlangsung selama 28 hari. Ada wanita yang siklus
menstruasinya pendek dan pula yang siklus menstruasinya panjang.
Siklus menstruasi yang pendek biasanya berlangsung selama
kurang lebih 18 hari. Sedangkan siklus menstruasi panjang bisa mencapai 40 hari
lamanya.
Meskipun terjadi secara
periodik, akan ada masa dimana seorang wanita akan berhenti menstruasi karena
sudah tidak lagi memproduksi sel telur.
Proses menstruasi terjadi dikarenakan sel telur pada organ
wanita tidak dibuahi. Hal ini menyebabkan endometrium atau
lapisan dinding rahim yang menebal menjadi luruh.
Apabila waktu luruh
lapisan dinding rahim telah tiba, maka akan mengeluarkan darah melalui saluran
reproduksi wanita.
A. Fase-fase Menstruasi
Menstruasi
pada wanita terbagi ke dalam empat fase, yaitu fase mentruasi (hari 1 sampai 5), fase folikular (hari 1 sampai 13), fase ovulasi (hari 14), dan fase luteal (hari 15 sampai 28).
1. Fase Menstruasi
Fase menstruasi terjadi jika sel telur (ovum) tidak
dibuahi oleh sperma, sehingga korpus luteum akan menghentikan produksi
hormon estrogen dan hormon progesteron.
Menurunnya kadar
estrogen dan progesteron ini menyebabkan lepasnya ovum dari dinding rahim (endometrium)
yang disertai meluruhnya endometrium tersebut, sehingga terjadi pendarahan.
Efek psikis dari
menurunnya hormon estrogen adalah wanita menjadi sensitif dan mudah marah
selama menstruasi berlangsung.
Fase menstruasi ini
berlangsung selama kurang lebih lima hari. Banyaknya darah yang keluar selama
masa menstruasi berkisar antara 30 – 40 ml tiap hari.
Darah menstruasi akan
keluar lebih banyak pada hari pertama hingga ketiga. Pada rentang waktu
tersebut, biasanya wanita akan mengalami nyeri perut.
Nyeri di bagian perut
ini disebabkan karena konstraksi pada rahim akibat peningkatan hormon prostaglandin selama
berlangsungnya menstruasi.
Kontraksi yang kuat pada
rahim dapat menyebabkan suplai oksigen ke organ tersebut tidak berjalan lancar.
Kurangnya asupan oksigen
ini yang menyebabkan kram atau nyeri perut selama menstruasi. Sebenarnya
kontraksi ini juga berperan dalam mendorong meluruhnya endometrium keluar
menjadi darah menstruasi.
Pada saat terjadi
penurunan hormon estrogen dan progesteron, maka di waktu yang sama,
hormon perangsang folikel (FSH) mulai meningkat dan memancing
perkembangan folikel (kantong indung telur) baru di dalam
ovarium.
Akan tetapi, dari
beberapa folikel yang berkembang tersebut, hanya ada satu folikel yang terus
berkembang akan memproduksi estrogen.
2. Fase Folikular
Fase folikular merupakan
langkah untuk pemulihan dari fase menstruasi yang pertama. Fase folikular ditandai
dengan pelepasan hormon Follicle Stimulating Hormone (FSH)
oleh kelenjar hipofisis yang terletak di otak. Hormon FSH akan
merangsang sel-sel telur dalam ovarium untuk tumbuh dan matang.
Sel telur akan matang di
dalam kantung yang disebut folikel. Sel telur akan mencapai
kematangan pada hari ketiga belas.
Pada saat sel telur
matang, folikel mengeluarkan hormon estrogen yang merangsang rahim untuk
membentuk kembali lapisan pembuluh darah dan jaringan lunak baru yang disebut
endometrium.
Fase folikuler dimulai
dari hari pertama sampai dengan hari ketiga belas selama siklus menstruasi.
Pada fase ini, hormon
estrogen dan progesteron yang pada fase sebelumnya menurun, perlahan
mulai meningkat kembali.
Peningkatan kedua hormon
tersebut akan memberikan dorongan energi, meningkatkan percaya diri dan
suasana hati.
3. Fase Ovulasi
Fase ovulasi terjadi
pada hari ke-14. Pada fase ini, otak akan memerintah hormon Luteinizing
Hormone (LH) untuk melepaskan sel telur yang sudah matang dari
folikel ke saluran tuba (tuba fallopi) dan akan bertahan selama 24 jam.
Pada fase ovulasi, hormon
estrogen dan progesteron berada di puncaknya, sehingga meningkatkan
efek psikis dari fase sebelumnya (folikuler). Hal tersebut berdampak pada
meningkatnya percaya diri serta libido.
4. Fase Luteal
Fase terakhir dari
siklus menstruasi adalah fase luetal. Fase ini terjadi pada hari
kelima belas sampai dengan siklus menstruasi terakhir.
Pada fase ini, bekas
folikel yang telah ditinggalkan sel telur pada masa ovukasi akan membentuk
korpus luteum yang menghasilkan hormon progesteron.
Pada fase luteal,
hormon estrogen akan mengalami penurunan dan sebagai gantinya tubuh mulai
memproduksi progesteron.
Hormon progesteron
merupakan hormon anti kecemasan alami, sehingga wanita akan berada pada suasana
perasaan yang lebih stabil dibanding fase ovulasi.
Rendahnya jumlah hormon
estrogen dan hormon progesteron akan menyebabkan
jaringan penyusun dinding rahim (endometrium) rusak dan pecah, sehingga
menstruasi akan terjadi kembali.
B. Faktor yang
Memengaruhi Menstruasi
Siklus menstruasi dipengaruhi oleh adanya peran beberapa hormon
tubuh berikut ini.
·
Estrogen; hormon yang berperan dalam pada pelepasan sel
telur (ovulasi) dalam siklus reproduksi wanita dan membantu penebalan dinding
rahim.
·
Progesteron; hormon yang menjaga siklus reproduksi dan
menjaga kehamilan, serta . berperan dalam penebalan dinding rahim.
·
Hormon pelepas gonadotropin (Gonadotrophin-releasing
hormone-GnRh); horman
yang diproduksi oleh otak dan membantu memberikan rangsangan pada tubuh untuk
menghasilkan hormon perangsang folikel dan hormon pelutein.
·
Hormon
Pelutein (Luteinizing hormone-LH); hormon yang merangsang pembentukan sel telur dan
proses ovulasi.
·
Hormon perangsang folikel (Follicle
stimulating hormone-FSH); hormon yang berfungsi membantu sel telur di dalam ovarium matang
dan siap untuk dilepaskan dan diproduki pada bagian bawah otak.
Fertilisasi dan Kehamilan
FERTILISASI
Apabila ada sel sperma yang masuk
ke dalam saluran reproduksi perempuan, sel sperma tersebut akan bergerak menuju
sel telur.
Apabila telah bertemu dengan sel
telur, bagian kepala sperma akan masuk ke dalam sel telur dan meninggalkan
bagian ekornya di luar sel telur.
Proses inilah yang mengawali
terjadinya fertilisasi.
Fertilisasi merupakan proses peleburan inti sel sperma dengan inti sel
telur, sehingga membentuk zigot. Proses fertilisasi ini terjadi di dalam tuba
fallopi.
Sel sperma menggunakan flagela
yang bergerak memutar sebagai baling-baling untuk menggerakan tubuh dalam
cairan yang ada pada tuba fallopi menuju ke sel telur. Gerakan flagela ini
dianalogikan dengan baling-baling untuk mendorong perahu.
Ada beberapa mekanisme sel sperma
dapat menemui sel telur. Sel sperma dapat menemukan lokasi sel telur karena sel
telur menghasilkan senyawa kimia berupa hormon progesteron.
Selain itu, juga karena adanya
sensor panas (suhu tuba fallopi atau tempat sel telur berada, lebih tinggi
dibandingkan suhu tempat penyimpanan sperma).
Zigot yang terbentuk setelah
terjadinya fertilisasi akan melakukan pembelahan,
selanjutnya berkembang menjadi embrio yang akan menuju ke rahim kemudian
tertanam (implantasi) ke dalam endometrium. Pada kondisi ini seseorang
mengalami kehamilan.
Berikut ini skema proses
fertilisasi dan implantasi,
PROSES MELAHIRKAN
Proses melahirkan dipicu oleh
tingginya level hormon estrogen. Tingginya kadar estrogen dalam darah memicu
kepekaan uterus terhadap hormon oksitosin.
Oksitosin dihasilkan oleh fetus
(janin), oksitosin juga merangsang plasenta untuk menghasilkan hormon
prostaglandin.
Hormon oksitosin dan
prostaglandin akan meningkatkan frekuensi kontraksi otot uterus, kekuatan
kontraksi, dan durasi kontraksi hingga bayi lahir.
Pada mulanya kontraksi terjadi
selama 30 detik atau kurang dalam rentang waktu 25 hingga 30 menit. Pada saat
puncaknya, kontraksi dapat terjadi selama 60 hingga 90 detik dan terjadi setiap
2 hingga 3 menit.
Kontraksi otot uterus
dimulai dari otot bagian atas lalu menuju ke bawah, memberikan gaya dorong pada
bayi untuk keluar melalui serviks. Gaya dorong ini semakin kuat saat kepala
bayi mendorong dinding serviks.
Hal ini terjadi karena,
saat dinding serviks terdorong dan melebar, maka akan merangsang dihasilkannya
hormon oksitosin.
Meningkatnya hormon ini
akan membuat kontraksi otot uterus semakin kuat, sehingga gaya dorong yang
dihasilkan semakin besar.
Selain gaya dorong terdapat
pula gaya gesek antara bayi dengan cairan plasenta dan gaya gesek antara bayi
dengan saluran serviks.
Panah berwarna biru
menunjukkan arah gaya dorong, sementara panah warna kuning menunjukkan arah
gaya gesek.
Arah gaya gesek selalu
berlawanan dengan arah gerak benda. Pada proses kelahiran, arah gerak bayi yang
mendesak keluar berlawanan dengan arah gaya gesek yang arahnya menuju ke dalam.
Ketika bayi keluar dari serviks gaya gesek di saluran serviks akan semakin
membesar karena kecilnya diameter serviks.
Gaya gesek ini menahan
gerakan bayi untuk keluar. Akan tetapi, hormon oksitosin yang dihasilkan selama
dinding serviks terdorong akan memperkecil gaya gesek tersebut.
Selain adanya oksitosin,
gaya gesek juga diperkecil dengan adanya cairan ketuban yang berperan sebagai
pelumas atau pelicin ketika bayi keluar.
MASA KEHAMILAN
Masa kehamilan dapat
diartikan sebagain kondisi sejak terjadinya fertilisasi dan
embrio terimplantasi dalam endometrium hingga terjadinya kelahiran.
Pada manusia, masa kehamilan rata-rata
berlangsung selama 38 minggu (266 hari) mulai dari fertilisasi atau 40 minggu
dari permulaan siklus menstruasi terakhir.
Kehamilan manusia dibagi menjadi 3 (tiga) periode (trimester), dimana masing-masing trimester lamanya tiga bulan.
Trimester Pertama
Trimester pertama
berlangsung dari minggu pertama sampai minggu ke-13 masa kehamilan. Pada
trimeter pertama, perubahan pada ibu belum terlihat jelas.
Akan tetapi, terjadi
perubahan besar dalam tubuhnya, misalnya peningkatan kadar hormon estrogen dan
progesteron.
Rahim mulai mendukung
untuk pertumbuhan janin dan plasenta. Tubuh juga akan meningkatkan supai darah
untum membawa oksgen dan nutrisi ke janin yang sedang berkembang.
Selama trimester
pertama, ibu harus menjaga kondisi tubuhnya, karena janin mudah mengalami
keguguran.
Kondisi janin pada
trimester pertama memiliki ciri-ciri sebagai berikut.
1. Ukuran embrio kurang lebih 7 mm
2. Embrio telah memiliki bakal tulang belakang
3. Otak dan sumsum tulang mulai terbentuk
4. Embrio sudah dapat disebut janin, yang terlekat
pada tali pusar dengan terhubung plasenta dan terlindungi oleh kantong ketuban
(amnion).
5. Janin berukuran sekitar 5,5 cm.
6. Otot, tulang belakang, tulang rusuk, lengan, dan
jari mulai terbentuk.
7. Janin sudah dapat menggerakkan lengan dan kaki,
serta mampu memutar kepala.
8. Pada akhir trimester pertama, janin terlihat
seperti miniatur manusia, jenis kelamin sudah tampak, dan detak jantung dapat
dideteksi.
Trimester Kedua
Trimester kedua
berlangsung dari minggu ke-13 sampai dengan minggu ke-27. Trimestrer kedua
merupakan periode yang dirasakan paling nyaman oleh ibu hamil, karena
kegelisahan gejala kehamilan awal sudah hilang.
Perut ibu akam mulai
terlihat membesar seiring pertumbuhan rahim yang lebih cepat dari sebelumnya.
Pada trimester kedua
ini, ibu dapat merasakan janin mulai bergerak, bahkan janin dapat mendengar dan
mengenali suara ibunya. Jenis kelamin janin juga sudah dapat dideteksi secara
lebih jelas.
Kondisi janin pada
trimester kedua memiliki ciri-ciri sebagai berikut.
1. Janin berukuran 10 cm, berat badan 0,5 kg, dan
janin sudah terlihat seperti bayi.
2. Jari tangan dan jari kaki sudah terbentuk,
bagian ujung jari sudah tumbuh kuku.
3. Janin telah memiliki alis dan bulu mata.
4. Permukaan kulit ditumbuhi oleh rambut.
5. Janin mulai bergerak aktif.
6. Pada trimester kedua, mata janin sudah membuka.
Trimester Ketiga
Trimester ketiga
berlangsung mulai dari minggu ke-28 sampai dengan masa kelahiran bayi. Pada
periode ini, janin sudah bisa membuka dan menutupo mata, mendendang,
meregangkan badan, dan bahkan merespon cahaya.
Ketia memasuki bulan
kedelapan, pertumbuhan otak janin akan berlangung lebih cepat. Sedangkan bulan
kesembilan, paru-paru sudah siap untuk berespirasi sendiri.
Kondisi janin pada
trimester ketiga memiliki ciri-ciri sebagai berikut.
1. Sistem sirkulasi dan respirasi janin mengalami
perubahan yang memungkinkan untuk bernapas dengan dunia luar.
2. Janin mengembangkan kemampuan untuk mengatur suhu
tubuh sendiri.
3. Tulang mulai mengeras dan otot menebal.
Selama perkembangan
embrio di dalam rahim, terbentuk membran embrio yang berfungsi untuk melindungi
dan memberi makan embrio.
Sakus Vitenalus
Sakus vitenalus (kantung
kuning telur) terletak di antara amnion dan plasenta, merupakan tempat
keluarnya sel-sel darah merah dan pembuluh darah yang pertama.
Amnion
Amnion merupakan selaput
pelindung embrio. Dinding amnion menghasilkan getah berupa air ketuban yang
berfungsi sebagai berikut.
1. Melindungi janin dari tekanan dan benturan.
2. Memberi ruang gerak bagi janin.
3. Sebagai cadangan nutrisi bagi janin.
Korion
Korion adalah selaput
yang terdapat di luar amnion. Korion dan alantois akan tumbuh keluar membentuk
jonjot dan berhubungan dengan dinding rahim. Jonjot-jonjot korion menempel pada
dinding rahim.
Di dalam jonjot tersebut
terdapat pembuluh-pembuluh darah yang berhubungan dengan peredaran darah ibu
melalui perantara plasenta.
Alantois
Alantois terletak di
dalam tali pusar, berfungsi menghubungkan sirkulasi embrio dengan plasenta.
Plasenta dengan embrio
dihubungkan oleh tali pusar. Di dalam tali pusar terdapat dua buah pembuluh
nadi dan sebuah pembuluh balik yang berhubungan dengan pembuluh-pembuluh darah
dalam plasenta.
Zat makanan dan oksigen
dari pembuluh darah ibu dialirkan melalui plasenta ke tali pusar, selanjutnya
ke pembuluh darah embrio.
Sedangkan zat sisa dan
karbondioksida dari pembuluh darah embrio dikeluarkan melalui tali pusar menuju
plasenta dan akhirnya dialirkan ke pembuluh darah ibu.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar